Shaping a Resilient Food Estate for Indonesia
The Premier Hub for Livestock and Poultry Professionals, Innovators, and Enthusiasts to Advance Farms and Foster Sustainable Growth in Indonesia.

04 – 07 November 2026 • Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City

Days to NLP 2026

Day(s)

:

Hour(s)

:

Minute(s)

:

Second(s)

Industri perunggasan nasional kini memasuki babak baru yang krusial dalam upaya menciptakan ekosistem pasar yang sehat, berkeadilan, dan berkelanjutan. Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) mengambil langkah cepat dan proaktif dengan mempertemukan seluruh pemangku kepentingan utama di sektor perunggasan tanah air. Pertemuan strategis ini dihadiri oleh jajaran kepemimpinan Ditjen PKH, Satuan Tugas (Satgas) Pangan POLRI, asosiasi industri peternakan, serta para pimpinan perusahaan integrasi perunggasan skala nasional.

Forum koordinasi lintas sektor ini diselenggarakan untuk merespons dinamika fluktuasi harga ayam hidup di tingkat peternak yang kerap bergejolak. Melalui konsolidasi ini, pemerintah dan para pelaku industri memfokuskan perhatian pada perumusan solusi konkret dan terkoordinasi demi menjaga stabilitas pasokan serta keterjangkauan harga, sekaligus melindungi keberlangsungan usaha para peternak mandiri di seluruh pelosok Indonesia.

Di tengah tantangan rantai pasok global dan domestik, pertemuan ini berhasil melahirkan kesepakatan kolektif yang sangat fundamental bagi stabilitas pasar. Para pelaku industri bersama pemerintah secara bulat menyepakati empat langkah eksekutif. Pertama, seluruh perusahaan integrasi berkomitmen untuk meningkatkan volume penyerapan ayam hidup dari peternak mandiri secara signifikan guna mengurai penumpukan stok di tingkat hulu. Kedua, percepatan perluasan dan optimalisasi kapasitas Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) diprioritaskan agar rantai distribusi dari bentuk karkas basah dapat digeser secara bertahap menuju produk dingin segar maupun beku yang memiliki daya simpan lebih panjang.

Langkah ketiga yang menjadi poin paling vital dalam kesepakatan tersebut adalah penetapan kenaikan batas minimum harga ayam hidup menjadi Rp19.500 per kilogram yang mulai diberlakukan secara efektif sebelum pertengahan Juli 2026. Penetapan batas harga minimum ini dirancang untuk memberikan jaminan kepastian margin yang layak bagi para peternak rakyat. Sebagai fondasi regulasi, poin keempat menegaskan komitmen seluruh pihak untuk senantiasa menjaga keseimbangan produksi hulu-hilir dengan mengacu secara ketat pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2024. Dokumen kesepakatan bersama ini ditandatangani secara resmi oleh perwakilan asosiasi, pimpinan perusahaan, Ditjen PKH, dan Satgas Pangan POLRI untuk memastikan pengawasan dan eksekusi berjalan transparan serta akuntabel di lapangan.

Langkah tegas ini mendapatkan apresiasi dan dukungan penuh dari jajaran pemerintah pusat. Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai fasilitator aktif yang terus mendorong iklim usaha peternakan yang kondusif. Dukungan ini diwujudkan melalui kebijakan yang adaptif serta penyediaan ruang kolaborasi berkelanjutan bagi seluruh elemen industri. Pemerintah menyadari betul bahwa tantangan di sektor peternakan dan kesehatan hewan tidak dapat diselesaikan secara parsial, sehingga konsistensi dalam membangun komunikasi dua arah antara pemerintah, pelaku usaha swasta, akademisi, dan asosiasi menjadi kunci utama dalam merumuskan ketahanan pangan berbasis perunggasan yang tangguh.

“Jadi kami mendukung terkait dengan program Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026. NLP 2026 ini merupakan ajang untuk pertukaran berbagai informasi baik oleh pemerintah, kemudian pelaku usaha, dan swasta, dan seluruh stakeholder di industri peternakan dan kesehatan hewan. Bapak Ibu yang bergerak di sektor industri peternakan dan kesehatan hewan, mari kita sama-sama bergabung di NLP Expo 2026. See you in NLP Expo 2026.” — Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M.Si (Sekretaris Direktorat Jenderal PKH)

Kehadiran ajang pameran internasional seperti Nusantara Livestock & Poultry Expo (NLP Expo) 2026 dipandang sebagai pilar penting dalam memperkuat jaringan kolaborasi nasional maupun global. Ajang pameran dan konferensi skala besar ini akan menjadi wadah strategis untuk mendiseminasikan inovasi teknologi peternakan modern, efisiensi pakan, pembaruan sistem kesehatan hewan, hingga penerapan standar keberlanjutan lingkungan pada peternakan modern. Simak pandangan lengkap Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M.Si (Sekretaris Direktorat Jenderal PKH) tentang Peran NLP Expo 2026 dan Sinergi Industri Perunggasan sebagai Langkah Strategis Menstabilkan Harga Ayam serta Memperkuat Ekosistem Peternakan Nasional melalui tayangan berikut:

Melalui keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan di ajang pameran NLP Expo 2026, diharapkan dialog kebijakan dan kemitraan bisnis yang telah terbangun dapat terus bertransformasi menjadi aksi nyata. Sinergi ini ditujukan untuk mewujudkan industri perunggasan tanah air yang tidak hanya mandiri dan berdaya saing tinggi, tetapi juga mampu memberikan kesejahteraan yang merata bagi seluruh pelaku usaha di dalamnya. Sebagai The Premier Hub for Livestock and Poultry Professionals, Innovators, and Enthusiasts to Advance Farms and Foster Sustainable Growth in Indonesia, ajang pameran NLP Expo 2026 berkomitmen menjadi wadah yang menghubungkan inovasi, bisnis, dan kolaborasi untuk mendukung terciptanya industri peternakan dan unggas yang semakin modern, efisien, dan berkelanjutan. Jangan lewatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari ajang pameran yang mempertemukan seluruh ekosistem industri peternakan dan unggas dalam satu tempat.

Hadiri NUSANTARA LIVESTOCK & POULTRY (NLP) EXPO 2026 pada 04 – 07 November 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City. Dapatkan informasi terbaru seputar pameran melalui Instagram @nusantaralivestock dan Facebook Official Nusantara Livestock & Poultry Expo.